Aku dan Jakarta

“Ke Jakarta” adalah salah satu resolusi saya.

Sudah lupa juga sebenarnya tahun kapan saya memulai menulis resolusi itu. Saya memang memiliki kebiasaan awal tahun menulis resolusi untuk tahun yang akan saya jalani. Makanya agak lupa kapan tepatnya saya menulis resolusi tentang Jakarta.

Panjangnya sih doanya, “Saya ingin ke Jakarta dalam rangka kerja”

Dan Alhamdulillah tahun ini saya mendapat kesempatan itu.

Kaget? Iya dong.

Seneng? Jelasnyaa…

.

Terakhir ke Jakarta pas papa saya sakit dan mesti dirawat di Harapan kita. Jadi rutenya, hanya bandara-RS HarKit. Itu pun pas masih kuliah, masih gadis, #eh.

Bagi saya, mendapat kesempatan kerja dari Jakarta itu pencapaian tersendiri oleh saya. Sudah lama saya memimpikan mendapat pekerjaan dari Jakarta. Alasannya, saya ingin mendapat pengalaman bagaimana rasanya mengerjakan pekerjaan skala nasional. Selama ini saya berkutat di Jawa Timur dan Kalimantan Timur, sekali-kali ingin tahu bagaimana bila yang memberi pekerjaan dari instansi pemerintah tetinggi (pusat). Pengen tahu, bagaimana standar kerja, kualitas produk, dan habit bila usernya dari pusat.

Tapi disini saya gak bahas soal pekerjaan lah ya. Toh pekerjaan masih berjalan, jadi belum bisa memberi kesimpulan. Saya mau berbicara tentang Jakarta.

Ceritanya pas Agustus kemarin  ke Jakarta, kebetulan suami juga ditugaskan keluar kota. jadilah saya pergi sendiri ke bandara Djuanda. Karena berasa gelap bagaimana saya bisa ke kantor setelah landing, saya cari lah info ke teman-teman yang di Jakarta. Mereka merekomendasikan ini itu. Bingung mau naik gojek, bus, uber, grab. Ah grogi aja bawaannya secara first time. Sempat juga kepikiran pakai cadar atau kacamata hitam biar gak kliatan udiknya hihi…takut salah, takut ada kriminal. ah serem deh ya kalo inget2 berita di TV.

Akhirnya saya memutuskan naik uber. Itu pun karena di pesankan suami saya yang notabene posisi sedang di Garut. Terbayang lagi tentang berita kriminal. Apalagi ini taksi tak berijin lah..bla bla.. Ya Allah lindungi perjalanan saya. Everything can happen. Tetap terjaga, tetap waspada.

Sampailah saya dapatkan si Pak Uber itu. Ndak taunya, si sopir ini berjenggot, celana agak nyingkrang, dan dia setel murrotal di mobil ertiga putihnya. Untuk sementara saya bernafas lega. Dengan tetap berhati-hati, siapa tahu modus mbohh maneh sih ya…hihi..*maap bukan maksud suuzon sih ya

Si bapak nanya mau lewat tol apa biasa? Terserah saja mana yang cepat. Daaan…ternyata se cepatnya itu, dari Bandara SuTa ke Pejaten , hampir 2 jam book… Ampuss deh sayah… Ya Allah tuak kali sayah di jalan…

.

Kota Tempat Bertemunya si Gagah dan si  (ter)Tatih

Selama perjalanan, saya trus bergumam. Ini kota ramai, dan padat sekali. Kendaraan berseliweran banyak, rapat-rapat. Semua tampak bergegas, semua tampak sibuk, semua tampak berkompetisi.  Jalanan di apit oleh gedung-gedung tinggi. Ada yang tampak gagah perkasa bau orang kaya di jalan besar. Ada juga bangunan biasa , rungsep, bau kesusahan di sisi jalan yang lain.  Di sudut-sudut jalan ada saja orang yang duduk, ada ojek yang menunggu penumpang, ada yang jual minuman dingin, ada yang habis makan di warung dan bersenda gurau, ada yang hanya menganggur melihat lalu lalang kendaraan. Di sudut lain saya juga menemui orang yang berpenampilan rapi, tampak sibuk.

Jpeg

Kota Penuh Kompetisi

Kota ini mencerminkan kehidupan yang penuh kompetisi. Siapa yang mampu berkompetisi secara materi dan skill, dia yang bertahan. Jangankan soal itu, kompetisi juga terjadi dalam hal fisik , yaitu ketika harus mengejar angkot, kereta dll. Juga, kompetisi untuk memberikan kualitas terbaik. Ataupun, kompetisi untuk memberikan harga murah. Semua penuh kompetisi, baik otak maupun otot. *Nyooh…

Kota “Tua di Jalan”

Ya ampun, mesti sabar banget ya di jalanan Jakarta. Dari tempat satu ke tempat lain jauh. Belum lagi macet. Dikit-dikit berhenti. Belum lagi bisingnya. Eeetdaah…

via GIPHY

Kota dengan Level lengkap

Kota yang memberikan gambaran kehidupan dengan level yang lengkap. Mau punya mobil terbaru ada, mobil jadul ada. Mau mall kelas high end ada, mall biasa banget juga ada. Makanan mahal-makanan murah. Apartemen mewah-apartemen biasa aja. Tinggal tergantung kekuatan finansial situ sih.

Kota yang Sibuk

Sempat saya bertanya ke teman di konsultan. Apa kesibukannya di Jakarta. Ia jawab : kerja. Rute? Kos-tempat kerja. Glek! Saya jadi teringat teman saya juga yang di Jakarta, bahwa pulang kerjanya di atas jam 5. Berangkat sebelum jam 6. Wew..

Jpeg

Kota Harapan Rejeki

Seperti cerita si Bapak Uber ketika perjalanan pulang menuju Bandara SuTa, ia bercerita bahwa ia baru saja resign dari taxi konvensional beralih ke taxi online. Katanya di taxi konven, merasa penurunan order dan pakai sistem setoran. Kini, tak tanggung-tanggung, ia mengikuti 2 aplikasi taxi online. Beliau menjelaskan, mana yang cepat saja yang menghasilkan. Dan dari pekerjaannya itu ia cukup merasakan manfaatnya.

Di luar mobil saya melihat di jalanan, banyak sekali ojek online dengan jaket nya yang khas berseliweran di jalan bak lebah. Saking banyaknya mungkin langsung manggil saja kalau lewat di depan mata-tanpa pesan via aplikasi.

Di Jakarta, juga banyak peluang projek-projek. Projek dari pemerintahan maupun yang sifatnya funding. Dan informasi terkait projek-projek mudah didapatkan. Informasi berasal dari networking dengan “orang dalam”. Belum lagi projek-projek yang berhubungan dengan brand-brand terkenal. Suka ngiri kalo ada blogger yang eksis di acara gathering brand apa gitu. Huhu…

Dan, di konsultan yang meng-hire saya ini, di dominasi anak-anak muda dari berbagai Perguruan Tinggi. Berbondong2 anak muda pada cari kerja di Jakarta. Ada yang dari Bandung, Bogor, Padang, Yogyakarta dll. Semua mengais rejekinya di Jakarta.

Kalau Kamu Sudah Menaklukkan Jakarta

Dengan profil Jakarta di atas, saya berkesimpulan bahwa hanya orang tahan banting yang mampu hidup di kota ini. Orang yang gak boleh ngeluh. Orang yang mampu berdamai dengan keadaan yang tidak ideal.

Kota yang memberikan keyakinan, bahwa kesuksesan itu bisa kamu raih dengan kerja kerasmu sendiri. Maka percayalah pada kemampuanmu bahwa kamu BISA, maka akan survive di Jakarta.

Kota yang memberi ruang kreativitas tanpa batas. Mau buat start up, kamu bisa bertandang belajar ke start up yang sudah “jadi”. Mau buat film, mau buat bisnis, workshop, dll sudah tinggal di build. Bukan berarti di kota lain gak ada sih. Tapi Jakarta selalu menjadi baromater sesuatu yang nge HITS-trend. Jakarta juga tempat orang  yang sudah expert di bidangnya. Pokoknya, kalau acara apa gitu undang narasumber dari Jakarta, itu kesannya wow gitu deh.

Kota yang mengajarkan bahwa untuk hidup, kamu harus berjuang dan berjuang. Hidup di Jakarta yang dinamis, harus diimbangi pribadi yang dinamis pula. Upadate skill mu, wawasanmu, dan terbukalah pada hal-hal yang baru.

Sehingga, bila kamu sudah mampu menaklukkan Jakarta, maka kamu mampu untuk menaklukkan kota berikutnya. *kayaknya sih gitu

Tertarik Het?

Hihi nggak.

Saya cukup mengagumi-Tapi ogah deh

Bukan typical saya aja sih-lebih karena-saya merasa tidak sanggup. Hihi..

Dan cukuplah Jakarta, sebagai tempat mencari rejeki saya jarak jauh. Alhamdulillah

 jakarta1

Sumber gambar: wikipedia