Het,kok lama ga nyetatus?

Suatu sore dalam kumpul santai, seseorang nyeletuk pada saya,

“Het kok lama gak nyetatus?Status kamu ditunggu loh”

Hehe iya nih, detox sosmed, jawab saya sekenanya.

Jadi ingat dulu ada yang bilang ke saya,

“Mbak kamu kalau bikin status kok keren-keren”

atau pernah ada yang japri

“Mbak tulisan2 mbak bagus, apa mbak penulis? Saya membacanya sampai bawah”

.

Mungkin yang mengikuti aktivitas FB saya, bisa merasakan saya sudah tidak terlalu aktif di FB.

Aslinya alasan saya panjang dan terstruktur. Sehingga saya jadi tergelitik untuk menulis, secara 2 bulan saya vakum menulis di blog ini. Hoho. Bukan hal tiba-tiba juga saya memutuskan menarik diri di perkancahan gegap gempitanya sosmed. Berat awalnya, semacam ada yang kurang hidup ini, ehehe. Tapi, mari berusaha.

.

Pemicu

Jadi pernah secara tak sengaja, membuka feed, saya membaca status orang, yang kalau dipikir ulang sebenarnya ditujukan ke saya. Statusnya sungguh tidak enak. Meski tidak ada nama saya, tapi karena sedang berurusan dengan dia, otomatis saya –terpaksa- harus merasa. Dan disitu saya menyesal telah membaca status itu. Karena saya melihatnya dia baik-baik saja kalau didepan saya. Kemudian saya telususri statusnya lainnya, dan beberapanya saya menemukan  status  yang  tidak enak pula yang sulit untuk tidak merasa itu ditujukan kepada saya. Ternyata tidak hanya sekali.

Sampai di titik dimana saya merasa menyesal, ah seandainya saya tidak membaca FB mungkin saya cuma tahunya dia baik pada saya. Tidak harus ada percakapan dalam hati saya, ada ya orang yang begitu ke saya. Ya Allah teganya. Karena sempat saya benar-benar shock dari status itu.

Pesan pak suamik cuma satu,

Selesaikan urusanmu dengan dia segera.

Akhirnya saya bangkit, dan fokus kembali. oke skip. Ga usah dibahas. Hempaskan sdan cukup doakan dia saja.

Cuma begini, yang saya ambil dari sini adalah betapa FB itu menjadi tong sampahnya orang. Betapa FB menjadi media kejujuran orang, sehingga terkadang lupa itu kejujuran untuk konsumsi privat atau publik? Padahal orang yang melihat “kejujuran” yang dipublish tersebut akan memaknai dengan beda-beda. Ada kolom reply disana dan bebas mengomentarinya tanpa perlu tahu kronologis yang terjadi. Lupakan perasaan subyek yang ada di dalam status yang tidak enak tersebut.

Betapa FB itu menjadi media framing. Hanya dengan status maka dengan mudahnya menunjukkan “aku korban dia pelaku, aku orang baik dia jahat” – (lalu) orang bersimpati padamu, dan (kemudian) “oh buruk sekali ya dia telah berbuat begitu padamu”. Padahal sekali lagi netizen tidak tahu kronologis, tidak tahu ceritanya secara utuh atau seimbang. Begitulah. Hanya sepenggal status, orang bisa mencitrakan diri ingin terlihat menjadi tokoh seperti apa.

Ada juga yang isinya curhatan tentang kliennya, bos nya, tetangganya, yang isinya kurang lebih sama. Hal yang ga enak. Masalah didunia nyata, disindir-dibahas di medsos.

Status seperti ini sering kali saya temui. Seliweran di timeline. Tapi saya tidak ikut komen. Lebih ke, Hoh apaan sih? Harus ya ke medsos. Medsos jadi tempat pelarian ketika kamu tak mampu menghadapinya di dunia nyata. Ituh!

.

Sebulan sebelum itu

Terlepas dari pemicu.

Dialah Ramadhan.

Status saya diawal Ramadhan yang saya ingat benar , saya menulis, “saya off FB an selama bulan Ramadhan. Mohon maaf lahir dan batin”

Bagaimana rasanya?

(Ternyata) Alhamdulillah, damai-tenang. Bisa juga ya saya hidup tanpa FB. Haha. Saya fokus pada aktivitas harian. Kebayang dulu, sebentar-bentar harus melihat FB.

Belum lagi waktu saya habis untuk kepo kehidupan orang. Waktu saya habis untuk posting status unfaedah, baca status orang yang sama unfaedahnya, dan bisa juga habiskan waktu orang untuk baca status saya yang unfaedah itu. Meskipun tetap ada yang faedah, tetap yang unfaedah yang banyak. Karena seperti sudah SOP, tiap hari perlu buat status. Sehingga gak semua status dibuat berkualitas.

Belum lagi bila status saya mengundang kontroversi. Ini menghabiskan waktu dan energi saya untuk menanggapinya. Belum lagi efek ga enakan. Misal beradu argumen dengan teman sendiri. Malah sempat berujung pada block.

Ada juga, status apa, ditanggapinya diluar ekspekatasi kita. Karena dia sepuh, akhirnya saya mengkonfirmasi by japri.

Kaan..Ah sudahlah. Untuk apa? Supaya apa?

.

Karena hati orang ada keseleonya

Dalam sebuah postingan yang di share terlebih yang sifatnya pencapaian seseorang, ga selamanaya bisa ditanggapi positif. Hard to say. Tapi ini faktanya. Namanya juga manusia, jadi wajar saja.

Seperti ini,

Misal ada yang share punya mobil baru.

Alhamdulillah, tentu ikut senang, itu default nya.

Tapi apa iya sih, kita yang ga punya mobil ini, dalam hati kecil tidak bergumam “ih gue kapan ya”

Ih enak banget dia

Paling dibelikan suami

Paling duit ortu

Paling bisnisnya pakai riba.

Paling belinya kredit

What?

Jahat kan

Itulah bisikan setan didalam hati. Dikibas2 biar hati panas. Lupa tentang bab syukur.

Alhamdulillah dapat proyek baru

Lupa, kalau punya kerjaan yang ga harus ngantor tiap hari masih bisa dekat anak

Lupa bisa makan enak, sedang diluar sana ada yang kelaparan

Dan lain-lain.

Bahwa FB juga cuma kulit luarnya, penampakan baiknya.

Tidak ditampakkan bagaimana proses pencapaian seseorang.

Gak tahu kan, sebelum sekarang dia mengalami part yang harus dihina orang karena bisnisnya

Gak tahu kan, bagaiman dia berjuang mendapat beasiswa harus jualan keliling

Merugi ratusan miliar

Dtipu orang,

dan sebagainya.

.

Demi masa,

Sesungguhnya manusia itu benar – benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran (Ashr:1-3)

Saya tidak sedang berbicara bahwa FB adalah produk Yahudi bla-bla. Lebih mengingatkan diri, bahwa FB itu memberikan efek melenakan lupa akan waktu. Padahal seandainya berpikir, waktu yang Allah kasih itu sebenarnya sempit. FB juga sarang timbulnya penyakit hati, hasad,hasut, ain. Wiih…

.

Belajar bertahap

Menutup akun secara keseluruhan sih belum. Tapi bagaimana saya mengurangi aktivitas buka FB, iya. Uninstall juga sudah. Menahan tak berstatus apa yang dipikirkan. Scroll terus sampai bawah juga udah enggak. Kepoin orang apalagi. Pamer aktivitas juga mikir lagi. Apalagi mendaratkan koment, ntar dulu. Share kajian juga jarang.

Fokus pemanfaatan FB untuk  bisnis dan tempat pembuangan link blog aja kali yahh, ehehe…

Sekedar saya besok-besok ketika hisab itu datang, saya menghindari percakapan,

“Het status lu tanggal segini tahun segini…nyinggung hati orang loh sehingga ia tidak ridho padamu…”

Ah lu het, baru hijrah aja ngomongnya dikit-dikit agama. Lu jadi ga asik deh. Santai aja kali

Hehe

Iya seandainya kita bisa bersantai-santai ya. Ngomong begitu mungkin juga karena kamu tidak tahu proses yang saya lalui. Gimana rasanya suka tiba-tiba nangis karena ingat Allah. Gimana rasanya, merasa kerdil di hadapan Allah. Jadi stop juga untuk bully orang yang baru hijrah *smile*

.

Fokus pada Proses

Ini part terakhir yang penting. Semacam saya tidak mau terlihat dan memperlihatkan proses yang saya lalui atau yang saya jalani. Mau saya keep dulu. Saya tak butuh mulut dan mata orang atas semua aktivitas yang saya lalui. Jaga-jaga dari hati yang keseleo tadi juga. Just do it. No publicity anymore. Yang cuma menghasilkan ujub dan kebanggaan semu. Pengen diperhatikan. Pengen dianggap keren. Berkarya dalam sunyi. Kita ketemu di puncak ya…

Oh, jadi gue yang masih FB an gini kau anggap jelek Het?

Hehe

Kau salah tangkap kawan. Untuk apa saya menilai2mu. Apa kapasitas saya?

Ini proses saya kawan. Dan bukankah kita disuruh berpesan-pesan baik kepada saudaranya?

.

Akhir kata, semoga ada ibroh dari postingan ini.

Kok Lama Ga Nyetatus_