Jadilah Ketuk Tular di Lingkunganmu

10

Ini sedikit cerita sebelum akhirnya kami eksis di lingkungan kami. Di sebuah lingkungan perumahan yang cukup luas dan asri, Rewwin. Bila di tarik ke belakang sedikit sejarah , saya dan suami tidak ada rencana kontrak rumah di perumahan ini. Namun karena ada kerabat menawari rumahnya ditinggali, jadilah kami penduduk rewwin.

Ketika sudah berjalan dan mulai membaur dengan lingkungan, saya menyadari bila saya adalah keluarga muda yang terjebak dengan keluarga “tua” yang umumnya sudah berumur. Atau lebih pantasnya saya gaul dengan anaknya.

Disitulah saya merasa asing tak punya kawan.

Waktu berjalan, Kayys si sulung paud di sebuah masjid Ad Da’wah. Mulai dari situ saya mulai kenal dengan mamah2 muda. Tapi tidak banyak dan biasa saja. Bahkan beberapanya sudah keluar dari TPQ Ad Dawah. Sampai akhirnya..entah di tahun ke berapa Kayys di Ad Da’wah seorang ibu berinisiasi untuk mengajak anggota baru yang  juga mamah muda untuk mengaji sembari menungggu jam pulang anak. Dari situlah kami menjadi saling kenal. Mereka ada yang tinggal dengan mertua, kontrak rumah, atau pasangan muda yang baru saja menata rumahnya. Kesamaan kami adalah ibu rumah tangga dari keluarga muda yang masih start up.

Kemudian berlanjutlah di grup WA.

Nah di grup inilah kami makin eksis dan makin kenal satu sama lain. Sampai suatu hari saya mengajak “ayo jualan” setiap minggu di bunderan Rewwin, dan tak diduga semuanya setuju. Terbentuklah kata DORANG alias Dodol Sembarang. Yess kami berjualan apa saja di hari minggu.

Setelah eksis dengan Dorang. Saya menginisiasi lagi. “Yuk sebar nasi bungkus”. Dan lagi-lagi di respon positif oleh kawan-kawan member grup WA barisan penunggu anak ngaji.

Tak terasa minggu ke minggu, kami menjalani dengan penuh makna. Jumat kami sebar nasbung, minggu kami berjualan di bunderan. Selebihnya adalah hari mengumpulkan donasi, dan diisi mengaji bersama setiap sore sambil menunggu anak ngaji.

Apa yang saya rasakan?

Alhamdulillah, semakin hari semakin banyak belajar. Belajar dari pribadi-pribadi kawan saya yang berbeda dengan saya. Belajar untuk saling memberi dan menerima. Belajar meningkatkan ilmu dan ibadah. Belajar simpati terhadap orang-orang yang mungkin kurang beruntung melalui program sebar nasbung. Belajar kewirausahaan menuju UKM. Alhmadulillah, dengan kebersamaan yang terjalin kami sama-sama saling menguatkan terhadap apapun permasalahan yang dihadapi.

Bagaimana perubahannya?

Mereka yang saya kenal adalah ibu rumah tangga. Berbeda dengan saya meskipun saya di rumah, saya bekerja online dan seorang profeisonal project. Sedangkan kawan saya mencari rejeki dari berjualan kue. Dan dengan adanya kegiatan Dorang, serta nasbung, alhamdulillah saya melihat mereka sekarang laris order.

Dorang pun makin eksis di segala event. Dari acara RT sampai bazar apapun dijabanin. Dari menjadi orang sekilas lalu di perumahan ini , menjadi sorotan sebagai icon eksistensi tukang jualan.

Terhadap dorang, sebagai inisiator saya berupaya memberi ide-ide fresh agar Dorang lancar jaya. Sedangkan untuk nasbung, selain promosi saya juga membantu dalam membuat rute atau riset lokasi.

Yess, inilah yang saya sebut ketuk tular di lingkungan.

Siapapun kamu, apapun kamu beranilah dalam berinisiasi pada lingkunganmu. Selanjutnya berkontribusilah. Ayo sama-sama mengajak supaya berkembang. Ibu rumah tangga juga harus produktif. Ibu rumah tangga bisa kok berdaya dari rumah.

Itulah salah satu yang saya tanamkan dan tularkan. Jangan selalu menjadi pihak yang hanya menunggu diberi. Bahkan pada kawan yang sudah nemu arah bisnisnya, saya bantu promosi online.

Ketuk tular contohnya lagi, adalah ustadzah saya.

Seperti saya singgung sedikit diatas, beliau gak pengen barisan penunggu anak ini hanya ngobrol ngalor kidul. Maka tercetuslah mengaji bersama. Belum lagi di WA ia menginisiasi grup yang isinya setor kabar pencapaian juz. Sehingga dari beliaulah kami belajar kembali baca AL Quran yang baik dan benar serta begitu cintanya terhadap kajian.

Ada lagi kawan saya yang menginisiasi adanya semacam “lembaga” anti riba untuk kawan yang membutuhkan. Dari hasil jualan kami menyisihkan untuk infaq. Uang infaq inilah yang kami sebut uang bersama yang diperuntukkan untukanggota yang sedang membutuhkan keuangan.Kami berupaya agar bila membutuhkan dana segar larinya jangan ke bank atau leasing. Ya dari apa-apa yang sudah kita kumpulkan selama ini dalam berjualan.

Maka, sekali lagi..apapun dan siapapun dirimu sekarang berusahalah untuk menginisasi hal-hal yang sifatnya positif. Ajakalah kawanmu bergabung agar sama-sama berkembang ke arah yang lebih baik.

Mengapa ini perlu?

Oh ini dalam rangka membentuk kualitas lingkungan yang memadai. Yess tentu saja untuk anak kita. Siapa lagi? Perbaikan positif dari diri sendiri dulu yang utama, kemudian ketuktular lingkungan. Kita bertanggungjawab terhadap terciptanya suatu atmosfer lingkungan. Karena anak kita berkawan dengan anak kawan kita. Otomatis sang ibu perlu memiliki visi yang kurang lebih sama dengan kita, begitulah. Benteng moralitas dan iman dibentuk dari sang ibu. Sebagai ibu kita harus bisa menjadi teladan untuk anak kita. Bagaimana agar mencintai Al Quran, menumbuhkan semangat wirausaha, semangat berbagi semua hal-hal kebaikan kita tunjukkan kepadanya. Agar kelak, minimal ia memiliki pribadi baik seperti yang dicontohkan ibunya selama ini. Dan itu adalah sebuah proses belajar yang panjang.

Alhamdulillah..semua berawal dari hal-hal yang sederhana dan dilakukan secara kontinyu istiqomah. InsyaAllah , Allah memepermudah jalan, meridhai dan memberkahi langkah-langkah kami.