Kapan Waktu yang Tepat Anak Khitan: Sebuah Pengalaman

Sebenarnya tidak ada usia pasnya kapan, tapi berdasarkan pengalaman mengkhitankan si sulung, saya merasa kemarin adalah waktu yang tepat. Saya merasa senang dan lega, dan anak saya juga happy menjalaninya.

Ceritanya, sebenarnya Kayys sudah minta khitan sejak dia TK B. Jadi pencetusnya adalah dari kemauan anak sendiri. Mungkin informasi itu sampai dari kawannya atau gurunya atau nonton upin ipin, akhirnya wacana khitan menjadi topik kami. Dan kami menjadwalkannya ketika liburan.

Sampai suatu saat, saking seringnya ia minta, saya pun menjanjikannya dengan kata, “Hari Minggu”. Jadi setiap Hari Minggu seingatnya dia, dia datang menagihnya.

Akhirnya tanggal 2 Juli 2016 kami melaksanakan khitan.

Saya merasa waktunya tepat , dari indikasi berikut:

Anak meminta sendiri

Secara sadar dia datang kepada saya mengutarakan permintaannya. Kami yang waktu itu masih berpikir ah nanti-nanti saja, jadi mulai membahas dan merancang-rancang kapan baiknya.

Anak Bisa mengkomunikasikan sakitnya

Setelah pasca khitan, kami mengkhawatirkan reaksinya ketika biusnya habis. Apakah baik saja atau akan ada masalah. Dan benar, dia bisa menjelaskan bila ia sedang merasa sakit. Dengan tahu sakitnya, maka akan tahu bagaimana dan apa yang harus kami lakukan. Dalam hal ini kami sudah mempersiapkan bila sakit seperti ini akan di kasih obat ini, bila berdarah akan begini, bila ada keluhan pada malam hari minum obat yang satunya dan sebagainya.

Bisa menceritakan kepada kawannya sehingga bisa memotivasi kawan sebayanya

Wah si Kayys seperti habis melewati masa penting dan bangga telah khitan. Setiap ketemu temannya, ia bercerita ia sudah di khitan. Sehingga ibu-ibu yang anaknya belum khitan suka nanya-nanya ke saya. Dan menjadikan Kayys contoh. “Tuh Kayys aja berani. Kamu kapan mau khitan?”

Mendapat doa

Yang sudah tahu Kayys telah berkhitan diantaranya ikut mendoakan agar dia menjadi lebih dewasa, sayang orang tua dan sebagainya persis ketika dia ulang ahun. Khitan menjadi era baru di hidupnya.

Mendapat kado

Ini efek sampingnya juga. Kayys mendapat kado dari kawannya. dan karena moment lebaran, angpao nya Kayys khusus agak besaran nominalnya ketimbang saudara lainnya.

Bisa bercerita kesan-kesannya selama dan sesudah khitan

Kayys juga menjadi lebih senang berbicara dan ngobrol tentang proses khitan yang ia lalui. Ia menceritakan bagaimana sakitnya di suntik, tidak terasanya ketika dijahit, rasanya susah pipis atau sekedar meniru gaya jalannya pasca sunat.

Sebagai tonggak awal menjadi pribadi yang lebih dewasa

Jadi kalau misal Kayys masih suka menangis, saya langsung mengingatkannya, Masa sudah khitan masih nangisan? ngompolan?dll. Sesuatu yang menjadi pengingat dia agar jadi lebih mandiri menuju kedewasaannya.

Demikian pengalaman khitan anak saya, semoga bisa membantu untuk Bunda yang berniat mengkhitankan anak. Yang pasti setlah mengkhitankan anak, rasanya lega, bangga, senang tak terkira. Satu kewajiban telah ditunaikan.

Salam