Konsep Memanen Air Hujan, Sebuah Ide Bijak Berdamai Dengan Hujan

Bila musim hujan tiba, dan terjadi genangan, umumnya yang dipersalahkan adalah debit air hujan! Seringkali kepala daerah atau pejabat pemerintah yang berurusan dengan banjir mengeluarkan argumen seperti itu. Kalau menurut saya, statemen itu hanya cari aman saja. Ya gak mungkin juga sih Tuhan meng conter pernyataannya, ya kan? IMHO, sikap seperti itu seakan menyalahkan Tuhan. Dan rakyat biasa yang dengar juga Cuma bisa menggerutu, yaela Tuhan di salah2in. Saya justru melihat bahwa debit hujan yang tinggi adalah kode Tuhan kepada manusia agar berpikir lagi bagaimana air hujan dengan debit tinggi tersebut tidak menjadi musibah tapi berkah, bermanfaat.

Oke, trend hujan di bulan-bulan ini sekian dan sekian akan terus mengalami peningkatan sekian, so apa yang bisa kita lakukan.

Sistem drainase jelas. Tata ruang juga. Selanjutnya?

Butuh terobosan!

Tergelitik bagi saya, mengapa tidak hujan yang lebat tersebut dikelola-diolah-diantisipasi.

Yaitu dengan metode rainwater harvesting atau memanen air hujan.

Adapun yang perlu dipertimbangkan, bahwa manfaat rainwater harvesting sebagai berikut:

Sumber Air terjangkau

Investasi dalam tangki air hujan adalah solusi biaya yang efektif yang bisa digunakan untuk penyiraman taman, mencuci mobil dan sebagainya. Ini sangat menghemat biaya dalam penyediaan kebutuhan air.

Segar, Air Hujan Sehat

Air hujan segar dan sehat, merupakan jenis air yang cocok untuk tanaman. Pemanfaatan air hujan untuk air bersih untuk keperluan Mandi, Cuci dan Kakus (MCK) sebenarnya tidak ada masalah, hanya yang perlu diperhatikan adalah penggunaan air hujan untuk air minum, karena kandungan rata rata air hujan di Indonesia :

  • Mineral rendah
  • Kesadahan rendah
  • PH rendah ( antara 3,0 s/d 6,0 )
  • Kandungan Organik tinggi ( > 10 )
  • Zat besi tinggi ( > 0,3 )

Skala Lokal

Pada skala lokal, dapat berupa tanki/ tandon yang disediakan di rumah-rumah. Tujuan dari tangki ini adalah untuk mengumpulkan dan menyimpan air hujan yang jatuh ke properti sehingga dapat digunakan kemudian sesuai kebutuhan. Tangki ini biasanya tersedia berbagai ukuran dari beberapa ribu liter hingga ratusan ribu liter. Bentuknya juga ada ramping, tangki bulat dan tangki bawah tanah.

panen hujan1

Tanki ini diupayakan per rumah, sebagai sebuah kesatuan fungsi sebagaimana halnya tandon air PDAM saat ini. Bila semua rumah menyediakan tanki ini, tentu akan mengurangi run off air hujan di kawasan tersebut. Karena cara kerjanya, air hujan ditangkap dan disimpan.

panen hujan3

Tak dipungkiri konsep ini nantinya sangat bermanfaat untuk kota besar, agar mendapat pasokan air dengan kualitas yang lebih baik. Chiras (2009) menyebutkan bahwa kekurangan air dipicu naiknya permintaan seiring peningkatan populasi, tidak meratanya distribusi air, meningkatnya polusi air dan pemakaian air yang tidak efisien. Namun juga dapat bermanfaat untuk kawasan yang mengalami kelangkaan/krisis air bersih. Ketimbang hanya mengandalkan kolam atau sungai alami untuk menampung air dikala hujan, dengan konsep rainwater harvesting air hujan ini bisa disimpan dan dikelola lebih baik .

Tanki rainwater harvesting ini juga bisa didesain untuk kebutuhan taman kota. Misal dalam area taman kota atau bahkan di median jalan (perlu didesain sedemikian rupa) disediakan tanki yang menyimpan hujan, agar kelak air ini bisa dimanfaatkan untuk penyiraman otomatis. Dengan begitu secara biaya dan tenaga menjadi efisien karena tanpa harus menugaskan petugas lapangan Dinas Pertamanan untuk menyiram semua sudut taman kota pagi dan sore.

Kalaupun masih seperti itu metodenya, minimal ada pasokan berupa tanki rainwater harvesting bisa disediakan di kantor dinas Pertamanan atau kecamatan. Sehingga ketika jadwal menyiram bisa mengambil air hujan di tanki tersebut , tidak harus membeli air terlebih dahulu ke rekanan.

Selanjutnya, rainwater harvesting ini juga bisa diaplikasikan di fasilitas-fasilitas umum misalnya sekolah, rusun, kantor pemerintahan, dan lainnya. Juga pada fasilitas perdagangan seperti mall, dan perumahan baru yang dibangun developer.

Dalam hal ini perlu adanya edukasi publik terhadap pentingnya menyediakan tanki rainwater harvesting dan tentunya keberpihakan pemerintah untuk mendukung upaya ini.

Instalasi Rainwater Harvesting

PR besarnya adalah bagaimana cara agar konsep ini bisa di scale up menjadi sebuah instalasi yang melayani kota atau kawasan. Bisa dikelola secara komunal, program pemerintah kota, atau bahkan  menjadi komoditas seksi perusahaan pengelola dengan menawarkan air sehat dan bersih, murah.

Rainwater harvesting bisa berupa instalasi air hujan berupa kumpulan tanki yang didukung pipa-pipa, dan pompa, kemudian disalurkan ke rumah-rumah. Air hujan tersebut nantinya bisa dimanfaatkan untuk keperluan MCK, atau bila dilakukan proses dengan melibatkan teknologi dapat dikonsumsi.

Investasi awal kemungkinan akan besar. Tapi bila berpikir ke depan, tentu akan ada kemaslaahatan yang bisa diraih.

Konsep ini bisa jadi hanya salah satu konsep saja. Tapi setidaknya bisa membuka wawasan, bahwa air hujan dengan debit tinggi bukanlah bencana. Tapi sekali lagi, kode Tuhan agar manusia bisa lebih berpikir untuk mengelolanya secara bijak. Pasti bisa. Tak ada sesuatu yang datang sia-sia dari Tuhan.

.

Kedepannya, debit hujan akan terus tinggi (tidak mungkin menurun, karena kecenderungan tutupan permukaan yang semakin besar dan populasi manusia yang terus bertambah). Meskipun di prediksi dan diupayakan dengan teknologi apapun, namanya debit air hujan akan seperti itu trennya.

Dan ketimbang konsep giant tunel yang digadang-gadang, yang lebih besar investasinya, konsep rainwater harvesting ini masih menjadi alternatif masuk akal yang perlu dipertimbangkan. Konsep rainwater harvesting yang sifatanya bukan instalasi namun disediakan secara mandiri, juga mengandung nilai-nilai kebersamaan, kepedulian dan partisipasi dari segala elemen akan masa depan keberlanjutan lingkungan. Bahwa ranahnya, bukan lagi dari pemerintah saja, namun sudah seluruh masyarakat. Bahu membahu mengatasi masalah genangan tiap kali hujan turun, karena menghadapi kondisi yang sama terus menerus tentu akan menurunkan kualitas hidup (perasaan tidak nyaman, properti rusak, aktivitas terganggu, dll). Dan terhadap lingkungan, juga agar tidak mengeksplotasi air bawah tanah terus menerus untuk memenuhi kebutuhan air bersih.

Karena juga gak mungkin selamanya, pihak pemerintah sendiri yang selalu kerepotan pontang panting menghadapi genangan (bila tak ingin disebut banjir) ketika debit hujan sedang tinggi. Itu sih namanya, tidak belajar dari pengalaman, hehe

Aku sih Big Nay!