Lost In Makkah-Madinah

Assalamualaikum wr wb

Hari ini saya akan mengikat cerita tentang perjalanan umroh yang saya lakukan pada tanggal 20-28 bulan November 2017 lalu.

Banyak yang bilang saya umroh seperti mendadak. Padahal sudah bayar pas Ramadhan. Aslinya, karena kami juga masih awam dengan travel ini. Terlebih pada saat itu kasus First Travel sedang merebak. Dan bahkan manasik di H-2 keberangkatan, hehe.

Kali ini saya berangkat bertiga, bersama adik dan ibu saya. Adik saya langsung datang dari Bontang, sedang ibu saya sudah di Surabaya sejak bulan Agustus. Tidak ada persiapan khusus, kecuali saya harus mengerjakan kewajiban-kewajiban pekerjaan saya. Mengingat ini adalah akhir tahun, dimana pekerjaan sedang padat dan diburu deadline. Trimakasih pak Bos atas pengertiannya. Juga Pak Suamik tentunya yang bersedia menjaga anak-anak.

Perjalanan umroh ini dimulai dari Jeddah kemudian Mekkah, Medinah.

Malam itu hawa begitu dingin . Angin semilir dan menusuk di King Abdul Aziz. Saya dengar memang sedang musim dingin. Kami disambut oleh Mutthawif untuk kemudian ditunjukkan bus yang akan mengantarkan ke Mekkah. Sekitar sejam perjalanan, muttahwif membangunkan kami untuk menunjukkan menara tinggi yang diatasnya berbentuk jam yang artinya kita sudah masuk tanah haram. Tak lama, kami sampai di hotel. Istirahat, makan dan bersiap. Malam itu juga kami langsung melakukan umroh. Saya lirik jam sekitar jam 11.

Menuju Masjidil Haram, angin berhembus dingin. Lalu lalang orang berpakaian ihram dan mukena lewat.

Sampailah kami di halaman Masjidl Haram. Tercium wangi sekali. Semakin mendekat ke gerbang pintu, semakin masuk dan finally melihat Kabah didepan mata. Mendadak mata ini langsung panas dan tersedu. MasyaAllah Subhanallah. Inilah kiblat seluruh umatMu. Yang biasanya Cuma dilihat dari sajadah, sekarang melihat didepan mata. Kokoh dan gagah.

ALLAHUMMA ANTASSALAM WAMINKASSALAM WA ILAIKA YA’UDUSSALAM FAHAYYINA ROBBANA BISSALAM WA ADKHILNALJANNATA DAROSSALAM TABAAROKTA ROBBANA WATA’ALAITA YADZAL JALALI WAL IKROM.
Artinya: Ya Allah, Engkau adalah kedamaian/keselamatan dan Dari-Mulah kedamaian/keselamatan dan Kepada-Mu lah kembalinya Kedamaian/keselamatan maka hidupkanlah kami Ya Allah dengan kedamaian/keselamatan dan masukkanlah kami ke dalam surga tempat yang damai. Maha Suci Engkau dan Maha Tinggi Wahai Tuhan Kami Yang Memiliki Kebesaran dan Kemuliaan.

 

Biasanya doa ini ku panjatkan setelah sholat, biasa saja. Kali ini sambil melihat Kabah aku sampai menangis terisak. Sangat-sangat memohon. Sangat-sangat meminta.

Lost In

Thawaf

Thawaf di malam hari nyatanya juga ramai. Namun semuanya tertib. Tetaplah ada yang nyenggol, mendesak-desak, tapi bisa diatasi. Kami tidak sampai kocar kacir. Di halaman Kabah itu, bergemuruh semua doa. Serentak semua berucap permohonan kepada sang Pemilik. Wajah meminta, wajah berharap, wajah khusuk jadi satu semua.

Selama tawaff saya sendiri tak hentinya berdoa. Semua doa saya lafalkan. Semua permintaan saya sendiri, teman saya, saya bacakan. Saya menuliskan doa-doa yang harus saya baca ketika di pesawat. Saya tulis buku yang dikalungkan di dada sebagai panduan doa. Ya Allah benar-benar deh yang namanya tawwaf, di depan Kabah begitu sangat mustajab, saya manfaatkan benar untuk membaca doa segala doa.

Suasana yang bejubel, sesak, banyak orang, sebenarnya membuat saya takut. Itu membuat saya terpecah konsentrasi, kadang emosi *lebay. Tak henti agar bibir ini terus berucap doa, hanya berkata yang baik. Meminta yang baik dan untuk orang-orang yang saya tinggal di tanah air.

.

Sa’i

Dilanjut dengan sa’i.

Ini lumayan berat. Kaki saya seperti kapalan dan memar. Berdoa dan semakin berdoa apa saja. Mulai putaran 4 kaki mulai terasa pegal njarem dan sudah tidak hafal ini sudah hitungan ke berapa. Badan sudah lemas letih. Tapi tentu tetap semangat berdoa.

Tahalul

Selesai Thawaf dan Sai diakhiri dengan memotong rambut.

IMG_20171123_073327

Akhirnya umroh pertama sukses. Semoga Allah menerimanya. Aamiin.

Setelah melakukan rangkaian umroh wajibnya, hari berikutnya diisi dengan ibadah mandiri. Ibadah mandiri saya mulai jam setengah 4, pagi-pagi berlari menuju masjid. Aktivitas harian saya di Makkah antara lain, tahajud, subuh, kemudian pulang sarapan. Berangkat lagi sekitar jam 11, dhuha dilanjut sholat duhur. Lalu istirahat makan siang. Sore , Ashar  berangkat lagi, tembus sampai Isya, sampai jam makan malam.

***

Banyak yang bilang kalau di Makkah itu apa yang kita lakukan akan ada balasannya . Benar sekali. Suatu hari ketika akan city tour, rombongan lama menunggu beberapa orang yang belum juga naik bus. Entah mengapa, saya langsung berinisiatif ikut mencari. Saya memang tidak kenal semua jamaah. Kebetulan ketika di pesawat saya bersebelahan dengan seorang ibu asal Mojokerto dan sempat berbincang. Jadi ketika check in hotel, saya sempat menanyakan nomor kamarnya. Nah ketika kondisi menungu itu, saya lihat lagi jamaah satu persatu, dan saya berkesimpulan ibu yang sebelahan dengan saya di pesawat itu yang belum naik bus. Langsung saja saya turun bus, pinjam telepon resepsionis, dan menelpon ibu tersebut. Benar, ternyata mereka masih riweh di kamar.

Saya jadi ingat dengan kondisi saya di Indonesia. Saya selalu berada di posisi orang yang sibuk mengkoordinir, mengorganisir . Entah dalam suatu pekerjaan, organisasi, komunitas, saya selalu aktif, ikut andil.

Di bus, mutthawifnya sudah terlihat sebal atas keterlambatan jamaah. Karena terkait dengan sewa kendaraannya, juga takut keburu dhuhur dan sebagainya.

Berikutnya, diumumkakan bahwa jam 2 akan diadakan umroh yang kedua misal untuk orang tua yang sudah meninggal dan sebagainya. Tepat jam 2, menghindari keterlambatan seperti city tourm, dan agar tidak ada yang tertinggal , saya berinisiatif woro-woro di grup, siapa yang mau ikut, sudah ditunggu di lobi.

Terus ada yang jawab, namanya Pak Bobi

“Saya lagi makan”

Saya jawab, ok

Jadi ketika mutthawifnya sudah ancang-ancang mau berangkat, saya bilang mohon ditunggu karena masih ada yang makan. Rombongan pun menunggu.

Thawaf lancar. Bedanya dengan thawaf yang dilakukan pada malam hari, lebih padat dan silau. Jadi harus menggunakan kacamata agar tidak memicing-micing.

Masuk ke Sa’i.

Entah sudah putaran ke berapa begitu saya ada selintas pikiran, karena saya, adik dan ibu selalu kompak, saya berpikir, kami tidak akan terlepas satu sama lain. Jadi tidak masalah lah kalau bertiga ini kami lepas dari rombongan.

Qodarullah ketika berpikir begitu, tepatnya di tanjakan , saya kesenggol gerombolan orang-orang tinggi besar. Sehingga saya terhalang jalannya, sehingga terlepas dari adik ibu saya yang ada didepan saya. Pun ketika sudah di posisi turun saya tidak melihat ibu dan adik saya. Saya tolah toleh. Menunggu. Lama.

Mereka sudah duluan didepan atau dibelakang saya ya, saya bertanya-tanya, bingung dan linglung. Mana ini sa’i putaran ke berapa juga sudah lupa. Akhirnya saya meneruskan perjalanan saya dengan hati gelisah, istighfar dan tobat sama Allah. Pikiran buruk sudah berkelebatan. Gimana ini gimana ini, panik deh.

Di saat sedang galau dan mulai berkaca-kaca namun saya tetap berjalan, tiba-tiba saya bertemu salah satu penanda dari jamaah travel. Ternyata beliau adalah Pak Bobi.Itu loh orang yang saya minta untuk ditunggu untuk umroh. Kebetulan yang sangat kebetulan. Ya Allah makasih banget.

Dari Pak Bobi inilah saya jadi tahu sudah putaran ke berapa. Bersama beliau pula jadi tahu tempat berkerumunnya jamaah lainnya. Tak lama kemudian adik dan ibu saya muncul. Saya mau menangis melihatnya. Kata adik saya, ibu saya juga sudah panik. Ya Allah terimakasih. Maafkan aku yang sudah sombong.

IMG_20171121_080835 IMG_20171121_080736

Begitu juga tentang sholat jenazah.

Setiap sholat wajib biasanya dilanjutkan sholat jenazah. Saya selalu bertanya-tanya apakah, setiap 5 waktu ada orang yang meninggal. Istilahnya saya nggumun. Apa iya? Emang gak papa ya kalau tidak ada jenazah tapi kita sholat jenazah?

Qodarullah, entah mengapa pada sore itu saya tidak masuk gate biasanya, tiba-tiba saya berpapasan dengan orang-orang yang mengangkat jenazah. Langsung 4 orang. Dengar-dengar sih sekeluarga. Saya jadi merinding melihatnya. Ya Allah…

Saat itu pula saya tidak gumun-gumun lagi, bertanya-tanya. Saya mantap sholat jenazah.

***

Hari ke 5 kami bergerak ke Madinah.

Area masjid Nabawi ini lebih cantik dan tertata ketimbang di Makkah. Bangunannya memiliki ketinggian yang hampir seragam. Jadi ingat aturan pentingnya keserasian bangunan, penentuan KLB. Buffer antara ruangan ibadah dan komersil juga lebih teratur. Ada penanda yang jelas berupa pagar. Beda sekali dengan Masjidil Haram yang seolah-olah dikepung dengan hotel-hotel mewah dengan ketinggian yang saling bersaing. Tetep ya jiwa planner saya kebawa *ya iyalah.

Masjid ini masjidnya Nabi Muhammad. Disini saya semakin menyayangi Nabi Muhammad dan perjuangannya. Seolah-olah ia hadir di tengah-tengah kami. Jadi kangen dengan Nabi Muhammad.

Rasanya ingin curhat, ya Nabi Muhammad, bantulah umatmu ini yang kocar kacir dalam menjalankan ibadah. Kami diserang dari banyak penjuru. Masalah demi masalah menggerogoti iman kami.

Ya Nabi Muhammad, tolonglah kami di akhirat nanti. Beri kami syafaat. Sesesungghnya kami ini manusia lemah. Sesungguhnya kami tertatih menjalankan sunnah-sunnahmu *cry.

Sesenggukan berat ketika di Raudah.

Sholawat terus bergema diantara ibu-ibu yang berjubel desak-desakan. Air mata disana sini. Seluruh dunia menjadi satu disini. Tumplek blek. Dan the power of emak-emak ya, kekuatan senggolannya lumayan deh. Saya dua kali kesini. Pertama dengan rombongan. Yang kedua dengan teman yang pernah bersebelahan dengan saya di pesawat. Maaf saya lupa namanya. Awalnya ibu saya mau ikut. Tapi saya cegah karena melihat medan sebelumnya. Saya takut ibu saya keinjak. Karena kami Cuma bertiga, tidak seperti ketika dengan rombongan, bisa saling menjaga. Lagi-lagi, qodarullah saya melihat perempuan yang menjaga ibu nya yang sudah tua di Raudah. Ah saya juga harusnya bisa ya. Menyesal juga sih.

Ada lagi kejadian pas di Nabawi. Alat counter  untuk dzikir saya rusak. Saya sudah bingung tuh. Malamnya rusak. Tiba-tiba pagi, ada counter jenis lain ada di tas saya. Barangkali punya jamaah lain , pikir saya. Tapi sudah saya tanya di grup tidak ada yang ngaku /menjawab. MasyaAllah.

***

I’m LOST

Ini perjalanan yang luar biasa bagi saya.

Ini momen meluruhkan dosa-dosa saya

Perenungan-perenungan saya

Dialog-dialog saya

Sungguh saya ingin menjadi orang yang selamat

Sungguh saya ingin menjadi orang yang lebih baik lagi

Kalau dipikir dan diresapi kembali,

Betapa banyak dosa yang telah saya kumpulkan

Banyaknya debu-debu dunia yang melekat di hati saya

Banyaknya amalan-amalan yang masih belum sempurna

Dan siapa saya ya Allah?

Saya mahkluk kecil tak berdaya

Dengan engkau yang Maha dari segala Maha

Engkau pemilik semua-semua nya

Engkau sutradara terbaik

Segala masalah, dan perasaan , perbuatan masalalu, engkau lah yang mengatur

Kini ku pasrah se pasrah-pasrahnya padaMu

Kuserahkan hidup dan matiku padamu

Berikan ku kesempatan memperbaiki diri

dari hari ke hari

Meski langkah ini tertatih dan letih

Aku akan berusaha

Aku percaya kepada engkau sang Maha Penolong

.

Ya begitulah, disana tidak lepas dari menangis dan menangis.

Menangisi keduniaan kita selama ini. Yang masih saja menjalankan perintahnya belum sempurna benar.

Saatnya Hetty yang baru

Titik balik seorang Hetty, InsyaAllah

(Ya Allah kalau ingat daku yang dulu, huhu)

IMG_20171121_120808

sembab berat

Semoga aku bisa ke sana lagi, dengan Pak Suamik juga . Aamiin

Semoga pembaca semua juga bisa dan lagi, ke sana. Aamiin

Bisa juga mengumrohkan orang lain. Aamiin

Tiada yang tidak mungkin di dunia ini, selama Allah ridha

Engkau sebaik-baik Pengabul doa umatnya

Hanya, diri ini yang disuruh memantaskan

***

Kutinggalkan Hetty yang dulu, di Makkah Medinah

Terima taubatku Ya Allah

Terima pemaafan dariku Ya Allah

Terima amalanku Ya Allah

Aamin Ya Rob

Aamin Ya Mujibasilin

IMG_20171127_163340

memutuskan berniqab, insyaAllah

*menulis dengan air mata