Sawang Sinawang

Ungkapan ini kudapat dari seorang temanku yang artinya, “apa yang terlihat belum tentu seperti yang terlihat” begitu kira-kira.

Bahwasannya kita jangan tertipu yang tampak dari luar saja. Misalnya kita melihat orang itu sukses dan bahagia, pintar, bertanggungjawab,dll, eh tahunya dia itu sebenarnya bla bla bla…

Aku termasuk orang yang selalu menilai seseorang dari luarnya saja. Ini hal yang mesti aku waspadai sih. Tapi karena sudah mengenal ungkapan ini dan aku melihat banyak kasus, sekarang aku mesti hati-hati terhadap menilai-nilai orang. Cari amannya sih, tidak usah menilai orang, biasa aja deh. Kecuali orang itu dekat dengan aku, barulah aku berani menilai.

Contoh kasus,

Waktu dulu ketika pelatihan untuk P2KP aku melihat sosok perempuan yang aktif bertanya dan ketika itu aku mikir dia orang yang smart –cepet nangkap materi, dan bertanggungjawab. Bahkan dia terpilih jadi tutor untuk daerah. Hebat kan?

Tahunya, ketika aku kerja di Malang untuk proyek P2KP berikutnya, ku dengar cerita bahwa sosok perempuan yang kukagumi itu melakukan kecurangan dalam maslaah keuangan dan kerjaannya juga gak beres.

Kasus 2, masih sama kenalnya di P2KP. Sosok pria yang kelihatan mengayomi dan menjadi ‘kepala suku’ kelompok kami waktu itu. Ternyata di lapangan kerjanya malah amburadul.

Yah, aku memang mendengarnya dari teman-teman saja. Tapi itu cukup membuat aku menilai orang itu tidak seperti yang aku lihat masa pelatihan dulu. Karena hampir 90% memberi kesaksian yang kurang lebih sama. Pekerjaan editornya sepertinya tidak disupervisi olehnya. Wah pokoknya payah deh.

Kasus 3, aku selalu kagum dengan lulusan Planologi ITB yang pasti sudah jadi orang ternama di Indonesia, menduduki jabatan strategis. Seperti kepala Bappenas, Paskah Suzeta, atau Gubernur Aceh, Abdullah Puteh.

Hehehe…ternyata 2 orang itu kini tersangkut kasus korup. Ampun deh!!!

Kasus 4, aku selalu mengira-ngira seorang pimpro itu dilengkapi kemewahan. Mobilnya pasti bagus dan mengkilap. Eh, ternyata dia Cuma bawa mobil keluaran tahun 90an…

Kasus 5, aku selalu melihat orang yang kerja di bank itu enak-enak aja kerjanya. Duduk dibalik meja, dandan, dengan kesejukan AC yang bisa diatur sesuai keinginan, gaji tetap, tunjangan. Tidak sepertiku yang orang lapangan dan AC nya suka ngadat, dan fasilitas yang serba pas atau bila ingin lebih sedikit sudah diliriki saja oleh sekretarisnya Bos. Tapi kata temannya temanku, yang kerja di bank malah mengeluh gak punya waktu sama anak, kalo izin susah banget, ke kamar mandi rada sulit, dsb. Ternyata ada tidak enaknya juga ya.

Kasus 6, dulu ketika masa sekolah ada pembagian kelas yang diurut berdasarkan rangking. Bila urutan 1 adalah paling pintar, nah temanku ini kena kelas urutan 6. Tahu maksudku dong? Seiring waktu dan lama tidak kontak, eh tahunya kemarin lihat di FS, tertulis kini ia bekerja di sebuah perusahaan tambang milik asing dan udah ke luar negeri juga karena pekerjaannya. Gile deh!!! Hebat banget tauuu!!!

Kasus 7, ada adek kelasku ketika pengkaderan lumayan vokal, smart dan cantik. Aku pikir saat itu wah nih anak pasti jadi bunganya anak plano. Pasti dia bakal jadi mahasiswa favorit karena kecerdasannya. Enak banget sih ortunya punya anak kayak dia, yang kelihatnnya selain pintar juga anak yang patuh

Tahunya apa? Dia merit by accident

Kasus 8, aku menilai akhwat dan ikhwan yang katanya aktivis dakwah tidak melakukan pacaran atau hal-hal yang halal dilakukan sebelum nikah. Dari 2 orang temanku yang akhwat, ternyata juga catingan tuh ama ikhwan, berduaan juga tuh di ruang tamu.

Ya, ya, ya..ternyata semua bermuara pada ungkapan klise yang sudah lama kita dengar “tidak ada yang sempurna”. Terkadang kita sering merasa cemburu, mengapa dia enak hiduppnya, mengapa dia lebih-lebih dibanding aku, dan sebagainya…

Untuk itu, “sawang sinawang” adalah ungkapan yang bisa menghibur dikala merasa disperado kenapa hidup kita rasanya kurang aja. Bahwa tidak ada yang sempurna. Pun yang tampak sempurna juga sebenarnya tidak sempurna. Sekarang tinggal kita bisa bersyukur apa yang sekarang ada didepan mata kita kini, maka itu yang dijalani. Dan, daripada menilai-nilai orang mending juga nilai diri kita sendiri.

Jangan muluk-muluk juga menilai Hetty itu bagaimana ya, hihi… Hetty itu biasa ajah kok…sawang sinawang aja dehhh…..oke?

sawangsinawang