Seventeen, Tsunami dan Tata Ruang

Assalamualaikum,

Tak lupa seperti biasa, sebelumnya saya ucapkan terimakasih kepada yang sudah mampir ke blog saya atau membaca postingan sampai selesai. Ini adalah tulisan saya yang terakhir di tahun 2018 setelah ratusan purnama hibernate dari mengisi blog. Padahal aslinya saya sedang dalam deadline garis keras, tapi tak apalah saya niatkan menulis saja. Seventeen, Tsunami dan Tata Ruang, 3 keyword yang menari-nari di kepala saya semingguan ini minta dituangkan dalam tulisan. Maka, jadilah tulisan dengan judul yang sama.

Di akhir tahun ini tepatnya tanggal 22 Desember 2018, publik dikejutkan dengan berita tsunami yang melanda Pandeglang Banten dan Lampung. Tsunami kali ini tidak lebih besar dari yang terjadi di Lombok atau di Palu. Tapi tsunami yang ini paling menarik perhatian saya. Terutama yang terjadi di Pandeglang Banten. Gelombangnya tidak begitu besar tapi mengapa korbannya mencapai 200an orang. Al Fatihah untuk para korban.

Adalah artis yang Allah pilih yaitu Seventeen. Sebenernya saya bukan penggemar seventeen. Saya lupa-lupa ingat lagunya. Tapi yang pasti vokalisnya enak dilihat, ehem. Selain karena pesona sang vokalis ingatan saya juga pernah merekam wawancara dia dengan istrinya, yang ternyata seorang dokter. Wow anak band dengan seorang dokter, pikir saya waktu itu. Kemudian bertahun berikutnya, terdengar kabar bahwa pernikahan tersebut gagal dan beberapa hosip kurang sedap yang menyertai. Hanya itu yang ada di ingatan saya tentang sang vokalis (dan juga band nya). Sehingga dengan adanya bencana ini, membuka memori lama saya , oh itu kan yang dulu bla bla…

Orang boleh berdebat, menilai bahwa yang namanya bencana itu azab atau ujian. Kalau saya lebih ke peringatan dari Allah. Notifikasi dari Allah. Allah Maha Kuasa segala Hal dan manusia adalah makhluk lemah tak berdaya. Bahwa segala sesuatu sudah takdir dari Allah. Kita hanya disuruh mempersiapkan. Karena kebanyakan kita terkadang lalai dan lengah. Mengutamakan dunya ketimbang akhirat. Allah memberi pesan melalui bencana yang ia berikan. Cara Allah untuk mengingatkan kita semua. Dan kali ini public figure sebagai media yang Allah pilih. Tak tanggung banyak artis didalamnya yang menjadi korban. Adanya public figure yang menjadi korban seakan Allah ingin menyampaikan pesan secara lebih dekat dengan makhluknya. Circle band seventeen adalah artis-artis. Demikian juga komedian AA Jimmy yang menjadi korban. Bisa dikatakan ini menjadi duka yang mendalam bagi sesama profesi artis. Senyampang dengan itu, memberitakan artis merupakan salah satu tema yang menarik, media darling. Tak hanya media konvensional yang meliput, sosial media pun terus meliput. Karena korbannya artis –masyarakat kenal, bencana kali ini diwarnai dengan melodrama yang menyesakkan hati, menyentuh sisi kemanusiaan (dibaca: baper).

Tentang kepergian teman kerja seperjuangan

Tentang kepergian pasangan

Tentang artis yang selama ini menghibur

Tentang kehilangan anak, teman, tetangga, saudara, kolega

Tentang pegawai yang ingin menyenangkan keluarga

Atau anak yang menjadi yatim piatu.

Tentang bagaimana sang vokalis yang kehilangan personel band, kehilangan istri tercinta, menjadi berita yang menghiasi linimasa. Allah menyentuh kelemahan perasaan melalui hubungan manusia dengan manusia lainnya. Kawan seperjuangan dari belasan tahun. Kerja bersama , sepanggung bersama. Dari yang belum terkenal menjadi yang sekarang ini. Tentu amatlah sulit bisa melepasnya. Namanya teman kerja bisa se awet itu anugrah banget ya kan. Yang ada juga belum bertahun sudah cek cok, ga kompak dan bubaran. Beda lagi kalau sama-sama pekerja atau karyawan ya. Kalau berangkatnya dari membangun tim, kemudian bisa settle dan kompak itu luar biasa.

Begitu juga hubungan dengan istri.  Menikah di pantai, berpisah di pantai. Sampai dalam hati saya berpikir, apakah suami saya akan sangat kehilangan seperti itu bila saya meninggal? Apakah akan terpukul seperti itu? Sehingga netijen menjadi baper, kepikiran pasangan masing-masing, beberapanya malah nge tag pasangannya. Bahwa pasangan itu mesti selalu disayang. Karena umur siapa yang tahu.

Yang saya renungkan adalah betapa dekatnya manusia dengan maut. Ketika sedang asyik menikmati malam, pagi masih bercerita bersenang-senang, happy-happy , tiba-tiba blasss. Kemarin masih kasih kabar ke keluarga, baru posting foto atau live di instagaram, malam itu semuanya menjadi nothing, meninggalkan nama. Kejadiannya begitu cepat dengan kecepatan tinggi. Air menghantam segala yang di lalui. Tanpa persiapan. Tanpa tanda-tanda. Tak mampu di hindari. Berganti menjadi luka dan duka yang dalam.

Maut tidak menunggu kita siap.

Maut tidak menunggu kita tobat.

Maut tidak menunggu kita tua.

Kapan saja dimana saja bila Allah sudah berkehendak. Bila sudah jadwalnya kita, maka tak bisa ditunda lagi. Siap tidak siap kita harus menyudahi kehidupan dan kembali ke Rabb-nya.

.

SeventeenTsunamidan Tata Ruang

Dan terakhir tentang tata ruang.

Saya pernah ke Tanjung Lesung Beach Hotel di medio 2016. Baca tulisan saya disini. Ketika itu saya menghabiskan waktu bersepeda di area hotel. Indah nian resort ini. Tertata apik landscapenya  memanjakan mata dengan laut luas di depan mata. Sambil memandang hamparan laut luas dihadapan saya, saya berpikir-pikir, ini pantai ombaknya lumayan juga ya. Trus juga berpikir, kalau ada tsunami resort semewah ini apa punya EWS (early warning system) mandiri? Dan apakah sudah tahu dia termasuk kawasan rawan tsunami. Bila iya, mengapa tidak membangun bangunan tinggi semacam shelter untuk evakuasi korban? Yang saya perhatikan, kawasan ini landed semua bangunannya. Tidak ada bangunan tinggi sampai di pintu utama.

Begitu pula dengan settingan panggung yang hanya berjarak 5m dari bibir pantai, itu saya sayangkan. Karena sejatinya, yang namanya sempadan pantai itu diamankan dari kegiatan atau bangunan sejauh 100 meter dari pasang tertinggi. Bisa dibayangkan ketika kejadian, ada yang terlempar ke daratan, ada pula yang terseret ke laut. Yang terseret ke laut inilah yang kemungkinan survive nya kecil. Bayangkan bila anak-anak, hiks.

Tanjung Lesung Beach ini masuk dalam KEK bidang pariwisata. Dengan status seperti itu, maka Tanjung lesung ini akan di support oleh 3 kementrian yaitu kemenpar, kemenperin dan kemen PUPR. Luar biasa ya. Apa kabar resort sebelah? Hehe. Mimpi besarnya seperti Nusa Dua Bali. Dengan kejadian seperti ini , KEK Tanjung Lesung perlu dikaji ulang, rekonstruksi lagi. Bagaimana pengamanan pantainya. Sebenarnya jarak ke vila cukup jauh dari bibir pantai. Hanya saja perlu ditunjang dengan EWS dan shelter menurut saya. Karena bagaimanapun panorama pantai adalah paket yang dijual di resort ini. Oya soal pantai, dulu juga dalam hati kecil saya sempat mbatin, itu garis pantainya panjang banget dikuasai oleh perusahaan Jababeka. Jadi view yang bagus-bagus sudah dikuasai menjadi privat. Masyarakat hanya sisanya. Sempet ngenes juga, tapi saya pikir semoga bisa menaikkan perekonomian daerah.

Sekali lagi, terkait tata ruang, dengan bencana-bencana yang ada Lombok, Palu dan Banten-Lampung, lagi-lagi menjadi perbincangan hangat di profesi kami. Bencana yang datang tiba-tiba dan membuat terkaget-kaget seolah menjadi tamparan di profesi kami. Tapi saya rasa juga bukan profesi kami saja, beberapa kelembagaan dan keilmuan juga pastinya bercermin dan self talk, Kok bisa? Yang namanya takdir memanglah sudah begitu. Tapi apa iya manusia kemudian pasrah, padahal ilmu sudah sampai. Peran tata ruang dalam hal kebencanaan antara lain:

  1. Pertama, kita bisa mempetakan potensi bencananya. Bencana apa saja yang emngancam.
  2. Setelah tahu apa bencananya, yang perlu diketahui juga daerah, kawasan mana saja yang akan terdampak, terpapar. Bahkan dalam hal ini kita juga bisa menghitung kerentanannya. Yaitu menghitung berapa jumlah penduduk yang berpotensi terdampak, berapa nilai kerusakannya
  3. Berikutnya, baru kita bisa menentukan fungsi apa yang bisa diaplikasikan di kawasan tersebut. Bagiaman pola ruangnya. Misal apa steril dari pemukiman atau kegiatan apapun, ditetapkan sebagai kawasan bencana, atau perlu kita atur saja pemanfaatannya. Misal diperbolehkan adanya pemukiman.
  4. Bila ada pemukiman atau kegiatan lainnya, maka harus diatur syarat dan batasannya. Misal tidak berada di jarak 100 meter dari bibir pantai.
  5. Ditunjang dengan teknologi. Salah satunya yang saya tahu di Jepang ada sirine tsunami. Atau di film San Andreas yang terjadi di tahun 1960 juga sudah ada sirine peringatan (kalau ini fiksi atau bukan saya tidak tahu ya). Intinya, dukungan teknologi itu sangat penting sekali. Bukan saja untuk memprediksi, namun juga mengurangi jatuhnya korban. Bukan untuk melawan dari takdir, tapi mari berusaha merubah takdir selama itu masih diupayakan.

Terakhir, tak henti saya doakan untuk para korban. Semoga husnul khotimah

Dengan bencana-bencana ini, menjadi muhasabah untuk diri sendiri untuk mendekatkan ke Sang Pencipta. Apakah kita sudah lalai, apakah sudah siap bekal kita, atau bahkan apakah sudah melakukan kerusakan-kerusakan di muka bumi ini.

Dan kedepannya, semoga kita menjadi negara yang tangguh dalam hal kebencanaan. Lagi dan lagi , begitu kata orang sebelah. Mengapa oh mengapa? Sampai disitu saja, tidak bisa berbuat apa-apa. Apa iya mental kita selamanya seperti ini, menunggu kejadian dulu ketimbang melakukan preventif. Ya kan? Gak tahu lagi kalau topik bencana tidak seksi di kalangan elit pemegang kebijakan.