Tunggu Aku Di Pintu King Abdul Aziz

“Ibu Habibah Sutanto” begitu panggil MC di atas panggung.

Riuh orang bertepuk tangan menuju pandangan ke arah kami.

MasyaAllah, Subhanallah, AllahuAkbar, Alhamdulillah, ibu saya langsung sujud syukur mendengar namanya dipanggil untuk menerima hadiah doorpize yang diselenggarakan sebuah acara milad radio.

Bahagianya tak terkira. Karena ibu sangat rindu Ka’bah. Tapi aku sebagai anak pertama ini masih belum bisa mewujudkannya. Apalah kami dari keluarga sederhana. Uang pensiunan almarhum ayah sebagai guru negeri juga tidak seberapa dan ibu yang ibu rumah tangga biasa. Tentu sangat terengah-engah mengumpulkan harta untuk bisa berangkat umroh.

.

Akhirnya dengan pinjam sana sini dan kasbon uang proyek, akhirnya aku bisa menemani ibu untuk berangkat umroh. Dimudahkan urusannya sama Allah, Alhamdulillah. Memang ya, umroh haji adalah untuk manusia yang dipanggil Allah. Jadi seperti sekarang ini, ibu yang sangat rindu, tiba-tiba menang undian. Bahkan aku yang tidak punya uang sebanyak itu di tabungan, ketika diusahakan ya ternyata terkumpul juga.

Jadi teringat cerita kawan juga, ketika menolak untuk berangkat umroh karena alasan ini itu, tapi kemudian luluh juga berbalik setuju berangkat. Begitulah kalau Allah sudah memanggil.

Hari manasik pun tiba. Setelah diberi penjelasan dari travel, kemudian kami dikenalkan dengan tour leadernya. Namanya Ustadz Fahriz. Orangnya kalem begitu. Tinggi, cepak, putih. Ya lumayan sih kalau aku melihatnya, dari kacamata ku. Astaghfirullah, buru-buru aku mengalihkan pandangan. Siapa dia? Dia hanya tour leader kami nantinya. Urusannya untuk ibadah.

Selesai acara manasik, kemudian ramah tamah, dan pulang. Ketika hendak pulang itu sekilas aku melihat Pak Fahriz, begitu ia ingin dipangil ketimbang ustadz, ke arah parkiran. Part sedihnya, dia beriringan dengan dua anak kecil yang bersih kulitnya, gembil dan berambut jabrik lucu menggemaskan. MasyaAllah keluarga bahagia. Istrinya tidak ikut paling ustadzah juga sedang isi kajian, begitu pikirku.

.

Hari keberangkatan pun tiba. Kami sibuk dengan urusan perisapan umroh. Sekilas ku melihat lagi Pak Tour leader tampak mengatur dan mengamati satu per satu jamaah. Agar semua berkelompok kompak. Tiba di giliran ku, aku segera menunduk. Aku hanya mengintip dari niqab butterfly hitam ini.

.

Sampai juga di tanah Haram. Di Makkah ini kita harus menjaga kata dan sikap. Karena Allah akan mengazab segera atas perbuatan tercela kita. Dalam al-misbah al-munir juga disebutkan “tanah haram, artinya tanah yang tidak halal untuk dilanggar. Kemudian ada juga firman Allah dalam QS. An-Naml: 91 yang berarti “Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekkah) yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang Muslim”. Begitu istimewanya Makkah ini. Negeri yang dijamin keamanannya oleh Allah. Saksi perjuangan dakwah Rasul, nabi akhir jaman Muhammad SAW.

Selama di Makkah ini pula aku menemani ibu kemana-mana. Sampai terpikir, kami takkan terlepas satu sama lain.  Karena aku adalah penjaga setianya.

Setelah sholat Isya, ibu memintaku mengisi air zam-zam ke botol yang kami bawa dari hotel. Ibu suka sekali dengan air zam-zam. Ibu bilang ini air yang segarnya luar biasa. Aku pun menyanggupinya.

“Ya bu, sebentar saya ambilkan”

Sekembalinya, aku tidak menemukan ibu! Atau aku salah jalur juga tak tahu. Keringat dingin pun mengucur. Kulihat sekeliling, mencari dan mencari. Ya Allah ini bagaimana. Ibu bagaimana ya Allah?

Aku ambil nafas, menenangkan diri berpikir solusi.

Berlari ku menuju Pintu King Abdul Aziz. Tadi kata Pak Tour Leader ditunggu di pintu masuk untuk pulang bersama. Segera ku kesana, terengah-engah, dengan air mata bercucuran dan hati yang tak menentu..

“Bapak, saya terlepas dari ibu saya “ disela tangis.

Dia mendengarku dengan seksama kronologi kejadiannya. Tak tampak di ekspresinya wajah panik. Ia lebih terlihat berpikir ketimbang kerisauan sepertiku.

“Baik, tunggu disini ya, saya akan menemukan ibumu. Bantu saya dengan istighfar terus ya. Sebentar saya koordinasi dengan rombongan dulu” ujarnya penuh karismatik, layaknya seorang tentara yang akan terjun perang.

Ia pun ke kerumunan rombongan dan meminta salah satu bapak untuk menggantikannya menunjuk arah pulang ke hotel.

Ia kembali ke diriku , sebentar

“Tunggu saya di Pintu King Abdul Aziz ya. InsyaAllah saya akan menemukan ibumu ” katanya sopan dan tertata.

Pintu King Abdul Aziz  adalah pintu masuk yang langsung berhadapan dengan hotel Zam-zam tower yang konon katanyanya tower tertinggi di Mekkah. Aku mengangguk. Dia pun menghilang dari hadapanku berbaur dengan orang-orang yeng berlalu lalang.

“Iya , InsyaAllah. Saya akan menunggu di Pintu King Abdul Aziz”

Tiba-tiba teringat. “InsyaAllah! Aku lupa kata InsyaAllah” Pekikku dalam hati.

Sempat tadi dalam hati lirih berujar sesumbar tidak akan terpisah dengan ibu. Bukankah bila Allah berkehendak apa saja bisa terjadi. Jangan menyalahi takdir. Apalah kita ini manusia yang sombong dan kerdilnya. Coba ingat lagi cerita nabi Muhammad yang ditegur Allah untuk berkata InsyaAllah“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali (dengan menyebut); ‘Insya Allah’.” (Al-Kahfi, 16:23-24) . Mengucapkan kalimat ini saat kita berjanji berarti kita tidak mendahului ketentuan Allah. Karena kita tidak pernah tahu esok, lusa atau di waktu mendatang

Ya Allah maafkan aku. Maafkan khilafku. Aku terus merutuki diriku.

.

Apa yang kupikirkan?

Bagaimana bila ibu tidak ketemu di lautan manusia ini. Bagaimana tanggungjawab ku di akhirat? Apakah aku pulang ke indonesia tanpa ibu. Sungguh aku tak bisa membayangkan. Apa kata orang, apa kata keluargaku. Anak durhaka.

Aku menangis sejadi-jadinya. Istighfar sebanyak-banyak.

Tak lupa ku sisipkan doa agar Pak Fahriz seandainya bisa menemukan ibu kubalas jasanya dalam bentuk apapun. Ibu satu-satuya permataku didunia. Surgaku dibawah kaki ibu. Cerobohnya aku. Aku akan menyesalinya sepanjang sisa usiaku. Naudzubillah.

Ya Allah, temukan ibu. Maafkan aku. Astaghfirullah. Ampuni kesalahanku terima taubatku…

Malam semakin larut , dan dingin semakin menusuk tubuhku. Anginnya begitu kecang. Menurut berita, Makkah sedang musim dingin. Aku sudah hampir ketiduran karena kelelahan mataku yang sembab. Sampai akhirnya ada yang mengguncang memeluk tubuhku…Mataku segera terbuka

“Ibuuu….”

“Alifaah”

Berhamburan ku memeluknya erat

“Ibuu.. Ya Allah terimakasiih.. Ibu maafin aku….Ibu maafin aku…” air mataku pecah lagi

Aku mencium kaki ibu ku.

Kami begitu larut, sampai lupa kehadiran Pak Fahriz diantara kami.

“Yuk kita kembali ke hotel” katanya menyela.

“Oh maaf pak. Terimakasih Pak Fahriz. Jazakamallah Pak Fahriz. Biar Allah yang balas. Barakallah untuk keluarga bapak. Afwan bapak merepotkan” kata saya terbata-bata. Seandainya ia halal, sudah kupeluk juga. Ah kesana lagi mikirnya, buru-buru istighfar, agar tidak di azab Allah.

Kami pun berjalan beriringan. Selama perjalanan kami betiga hanya diam dalam bisu karena kelelahannya kami melewati malam yang panjang. Malam itu malam yang indah bagiku, seolah berjalan ditemani bintang-bintang dilangit yang sedang bersorak sorai ikut berbahagia menyaksikan kami.

.

Hari selanjutnya adalah hari dimana benih-benih ke Pak Fahriz terasa begitu nyata. Makkah yang didominasi warna monokrom hitam, putih, abu, mendadak tampak berwarna warni nan ceria. Setiap melihatnya, hanya bisa bergumam MasyaAllah. Juga, Astagfirullah, khilaf memandangnya dari jauh, kusadari ini zina mata. Ingat sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: Janganlah engkau ikuti pandanganmu dengan pandangan yang selanjutnya.” (HR. Tirmidzi, dan dihasankan di dalam shahihul jami’). Aku sudah paham tentang itu, mewanti-wanti ku ingatkan diriku.

Salah satu tempat mustajab adalah antara pintu kabah dan sudut hajar aswad dan ketika ku melihat tour leaderku itu, ku doakan kebaikan untuknya. Ah, terlalu naif bila minta dia kepada Allah untukku. Cukup beri ia kebahagiaan ya Allah..Semoga ia dan keluarganya diberkahi, dalam lindunganNya, dimudahkan urusannya. Keluarga sakinah mawaddah warahmah. Aamiin… Nama beliau menjadi salah satu list yang ku doakan selain dari teman-teman yang menitip doa.

Ya diam-diam dibalik cadar rapatku ini aku berharap kepada pria itu. Yang sudah menemukan ibuku. Ah seandainya ia tahu. Tapi juga sepertinya tak mungkin. Aku wanita, selamanya hanya menunggu. Meskipun diperbolehkan seperti Khadijah. Tapi aku ini apa. Wanita biasa tak punya kapabilitas dan kualitas seperti Khadijah.

Ya aku juga ingat soal usia. Usia yang tak lagi muda. Merangkak kepala 3 something. Yang seharusnya sudah menimang, menggandeng, menggendong anak. Sedang aku sibuk dengan pekerjaan dan sekolah S2 untuk sekedar mengisi waktuku. Di usia yang rentan dan sasaran empuk dengan yang namanya pertanyaan retoris. Kapan nyusul? Gak nyari? Yang parah, kamu sih cadaran. Heii…apa hubungannya. Mengesalkan tapi ya sudahlah. Asal tahu ya, aku menutup itu untuk menjaga kepada yang halalku kelak! Hehe, ga ding aku ga boleh marah. Sensi sih, hehe.. Aku tahu maksud mereka adalah meotivasiku. Aku hanya berusaha memantaskan diri untuk diberi yang terbaik oleh Allah. Bukankah wanita baik-baik untuk laki-laki baik-baik pula?

Ya, memang ya sudahlah. Mau bagaimana lagi. Masyarakat kita emang masih belum menghilangkan basabasi yang tidak perlu. Mungkin juga lupa, bahwa namanya takdir kan bukan kita yang tentukan. Semua sudah ditulis di Arsy. Biar kuserahkan sepenuhnya saja kepada Allah. Yang penting tetap optimis dan percaya. Toh juga bukan tanpa usaha.

.

Mengingat kejadian ibu yang kemarin tersesat, tentu tak bisa lepas kekagumanku pada sosok itu. Kembali lagi tentang dia.

Ah Ya Allah , inikah jatuh cinta

Inikah cinta dalam diam?

Bolehkah aku mengharap?

Bolehkah aku memintanya padaMu?

Apa aku harus berusaha mendapatkannya?

Atau sekedar berkenalan?

Aku tak tahu caranya

Aku tak punya pengalaman. Hidupku terlalu asyik dengan proyek penelitian. Keluar masuk daerah pelosok. Terus sibuk dengan kegiatan rohis dijaman sekolah-kulaih.

Dan setahuku itu haram. Jangan mendekati zina. Jangan berkhalwat. Ya sudah ikuti saja. Sabar sampai waktunya tiba. Bila jodoh Allah akan menunjukkan jalan.

Jangan lupa juga, di sudah punya anak, hidupnya sudah sempurna, jangan menggangu atau merusak kebahagiaannya. Teringatku hadist ”Siapa yang merusak hubungan seorang wanita dengan suaminya maka dia bukan bagian dari umatku.” (HR. Ahmad 9157 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth). Jaga kehormatan dan kehormatan sebagai wanita. Jauhi bisikan setan yang bisikannya begitu halus. Kalau itu yang terjadi, berarti memberi kesempatan setan diberi penghargaan sebagaimana dalam HR. Muslim no.: 7284″Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air kemudian mengirim pasukannya. Dan yang paling dekat kepada Iblis dari pasukannya adalah setan yang bisa membikin fitnah yang paling besar. Salah satu dari mereka datang dan berkata, “Aku telah berbuat ini dan ini”. Iblis berkata, “Kamu belum berbuat apa-apa”. Kemudian datang setan lain dan berkata, “Aku tidak meninggalkannya sampai aku bisa memisahkan antara dirinya dengan istrinya”. Maka Iblis mendekatkan setan tersebut kepada dirinya dan berkata, “Sebaik-baik (pasukanku) adalah kamu”. Ya benar, baiklah kubunuh saja perasaan ini. Kukubur saja dalam-dalam.

.

Sebulan kemudian, dalam sebuah perjalanan menuju Makassar karena ada pekerjaan penelitian. Di airport, ketika sedang mengambil bagasi. Seseorang menyapaku,

“Dari jamaah Halal Travel?” Ya, aku memang menggunakan koper dari umroh.

Aku kaget.

Hah , Pak Fahriz!

“Assalamualaikum loh Pak Fahriz. Benar bapak saya jamaah Halal Travel. Saya anak Bu Habibah yang kemarin bapak bantu carikan. Jazakamallah bapak” Takut dia melupakanku.

“Oh iya? Ya ya..apa kabar ibu?”

“Baik Alhamdulillah”

“Ibunya dijaga baik-baik ya”

“Siap, InsyaAllah”

Kami pun berbincang sedikit, sekilas kabar dan bertanya dari mana. Yang kutahu dia seorang dosen S2 dan dia dalam perjalanan untuk ceramah.

Setelahnya kami pamit dan berpisah. Semuanya cepat saja.

.

Ya Allah sepanjang perjalanan. Aku menangis. Ya Allah mengapa kau pertemukan aku dengan dia lagi. Sosok yang sudah dalam usaha untuk kulupakan.

Kami tak bertukar nomor secara personal. Berbincang sekedarnya, seperti antara jamaah dan tourleader.

Lagi-lagi ku berdoa kepada Allah, bagaimana baiknya perasaan ini. Redamkan gemuruh yang ada di dada ini.

.

“Gimana mbak? Apa sudah ada informasi tentang ikhwan?” tanyaku pada Murrobiku.

“Iya nih belum, masih dicarikan lagi ya. Masih belum ada proposal masuk lagi. Sabar..tetap berdoa selalu ya dek. InsyaAllah ada, kita hanya disuruh bersabar” katanya menenangkan.

Kata Mbak murrobi, rata-rata ikhwan nyarinya usia under 30 tahun, putih cantik. Ya tidak masalah, karena memang pria harus melihat.

Aku juga tidak masalah bila harus memperlihatkan wajahku. Karena aku juga cantik, eh..maaf. Maksudnya, aku juga perlu melihat profil si ikhwan. Masalahnya, beberapa yang pernah masuk juga masih belum membuat aku cocok. Misal masih terlalu muda, baru lulus, atau usaha yang belum terlalu mapan. Jadi kalau dari akunya kurang cocok, ya tak perlu repot-repot menampakkan wajah dulu.

Ya boleh dong aku buat kriteria. Sama kan dengan pria. Biar sama-sama fair, hehe. Aku juga mesti realistis. Mencari calon yang sekiranya sudah matang sepertiku. Meskipun keputusan terbesar soal ketetapan ini adalah prerogatif Allah.

.

Selain dari murrobi jangan salah, aku juga berusaha dengan dunia online. Adalah itu namanya taaruf online. Atau grup taaruf online. Itu juga aku jabanin dan menjadi member aktif yang berbayar. Belum menemukan juga. Sampai berpikir mungkin stok pria “idaman” sudah habis apa ya, hehe.

Kadang lelah dan hampir putus asa.

Tapi namanya ingin mencapai tujuan, harus berusaha, ya tetap usaha terus.

.

Suatu sore yang cerah di langit Maret Surabaya,

“Alifah, kamu bagaimana apa sudah ada calon?” tanya ibu hati-hati, pelan dengan menyodorkan pisang goreg caramel dan duduk didepan meja kerjaku.

“Belum bu, maaf bu” kataku berhenti mengetik.

Pertanyaan yang berulang. Dan berulang sesaknya.

“Iya tetap bersabar ya nak. Alifah, seumpama ibu carikan bagaimana?” tanya ibu tidak yakin.

“Iya boleh bu” kataku pasrah.

Tahu tidak? Aku dulu selalu menolak tawaran ibu ikut mencarikan. Aku bilang ibu tidak perlu repot. Aku bisa mencarinya sendiri. Karena aku harus mencari sesuai yang kumau.Ya begitulah diriku.

Tiba-tiba teringat Pak Fahriz.

“Oya bu, kapan hari ketemu Pak Fahriz di bandara. Beliau titip salam ke ibu. Beliau dosen S2 ternyata” kataku berbinar.

“Waalaikum salam. Wah pasti banyak ya mahasiswanya” gumam ibuku.

.

Seminggu kemudian,

Bel rumah berbunyi,

“Alifah temui dulu tamunya” seru ibu dari dalam.

Bergegas ku membuka pintu

Dan dia lah orangnya…

Aku hanya mematung didepannya

Betulkah dia?

Dia yang ada di mimpiku itu?

Dia yang kunanti?

Dia yang ku pinta?

Ada dihadapanku. Ada di rumahku.

Menyusul dua anak kecil berlarian masuk ke rumah mencari ibuku.

.

“Bapak, pak..ust.. ngapain kesini… maaf bukannya sudah berkeluarga?”

Ingin sekali berkata, saya tidak mau di poligami, pulanglah! Tapi kutahan. Aku masih belum mampu berkata-kata banyak.

“Iya saya sudah berkeluarga anak saya, 2 , Jiwa dan Raga. Namun istri saya sudah meninggal 3 bulan lalu karena sakit. Saya butuh pendamping menemani saya mendidik jagoan saya. Barangkali engkau bersedia? “

Aku melihat ke arah ibu,

“Ibu, ibu bercerita apa ke Pak Fahriz?”

“Oh tidak, ibu hanya minta tolong barangkali Pak Fahriz bisa mencarikan orang untukmu misal mahasiswanya atau jamaahnya. Ibu sungguh tidak tahu bila dia yang datang sendiri Alifah” ibu mengklarifikasi dengan mata berkaca-kaca

“Saya sudah mencari informasi tentangmu Alifah. Dan ternyata murrobimu itu keponakan saya.”

Hah! Aku terpaku mendengarnya.

Aku pun tak kuasa menahan lagi air mata yang mulai menggenang. Kali ini bukan nada sendu melainkan kebahagiaan yang tak terbendung. Menghapus dahaga. Menghentikan penantian panjang yang kulalui.

Kupandangi satu persatu anak-anak itu yang kini sudah di pangkuanku.

Bila memang ini rencanaMu ya Allah. Ijinkan ku diberi kesempatan menemaninya mendidik anak-anak hebat ini. Segera kupeluk keduanya. Kuciumi keningnya masing-masing. Mensyukuri atas syukur yang tak terkira.

(Tentu saja) Aku menerima tawaran ayah kalian.

Alhamdulillah

.

Seminggu kemudian kami menikah sederhana.

Sungguh yang terpikirkan olehku hanyalah Kebesaran Allah Sang Maha. Cara kerja Allah. Allah adalah sesuai persangkaan hambanya. Sesungguhya pertolongan Allah itu dekat. Pantaskan diri untuk menerima berkah Allah. Tidak sia-sia semua kujaga. Untuk orang yang sangat spesialku ini.

Allah benar-benar memberikan skenario yang bahkan tak pernah kupikir endingnya akan seperti ini. Diantara keputusasaan dan keoptimisan ku, Allah sedang bekerja merencanakan sesuatu yang luar biasa. Kepingan demi kepingan peristiwa dirangkai menjadi cerita indah.

Allah benar-benar membuktikan janjiNya. Ia memberi ujian kepada hamba yang sabar.

Terimakasih Allah. Semakin ku mencintaiMu dari apapun didunia ini.

Kulirik orang disebelahku ini, teringat kembali permintaan pertamanya,

“Tunggu aku di Pintu King Abdul Aziz ya”

Ya aku menunggumu sampai kita halal..InsyaAllah.

Tunggu Aku di Pintu King Abdul Aziz